Fatherhood: A Tribute to Captain Hector Barbossa

“What am I to you?”

“You are my treasure.”

Sepanjang 2003 sampai beberapa jam yang lalu, saya masih mengidolakan karakter Captain Jack Sparrow dan Will Turner dalam film seri petualangan Disney Pirates of The Carribean. Entah karena kepribadian Jack yang unik atau karena ketampanan Will. Namun semua itu  seketika berubah karena fragmen Captain Hector Barbossa dalam Dead Men Tell No Tales. Captain Hector Barbossa yang selama ini saya anggap sebagai sosok yang licik dan serakah, menjelma menjadi sosok seorang ayah yang patut diidolakan.

Meski Dead Men Tell No Tales bertajuk “Salazar’s Revenge”, rasanya pembawa cerita dalam seri ini bukanlah Captain Armando Salazar, melainkan dua orang anak yang ingin bertemu kembali dengan ayahnya: Henry Turner dan Carina Smyth. Tanpa dua orang tersebut, tidak akan lahir gagasan untuk mencari Trident of Poseidon yang melibatkan Captain Jack Sparrow, Captain Hector Barbossa, Captain Armando Salazar dan Black Pearl tentunya.

Jika Henry sesekali masih bisa menjumpai ayahnya yang terjebak dalam Flying Dutchman dengan menenggelamkan diri ke lautan, Carina sama sekali belum pernah bertemu dengan ayahnya. Bahkan mengetahui siapa ayahnya saja tidak, sebab ia ditinggalkan di panti asuhan dengan nama belakang ibunya dan sebuah jurnal pencarian Trident of Poseidon. Rasa penasaran akan keberadaan Trident of Poseidon dan keinginan untuk mengetahui siapa sosok sang ayah membuat Carina menekuni astronomi dan horologi yang kelak membantunya membaca The Map No Man Can Read, peta yang bisa mengantarkannya menuju tempat di mana Trident of Poseidon berada.

Keinginan untuk mematahkan kutukan yang mengikat sang ayah membuat Carina dan Henry sepakat mencari keberadaan Trident of Poseidon bersama-sama. Ketika berada di Black Pearl dalam pencarian Trident of Poseidon, Barbossa melihat jurnal dengan batu rubi yang digunakan Carina identik dengan jurnal ia berikan kepada anak perempuannya yang dulu ia tinggalkan di panti asuhan. Anak dari hubungannya dengan Margaret Smyth.

Petunjuk yang dibaca Carina mengarah pada sebuah karang yang dipenuhi batu mulia. Ia menyebutnya sebagai “a perfect reflection of heaven”. Namun ia merasa ada “bintang” yang hilang di karang itu. Barbossa menggenapi “bintang” yang hilang dengan batu rubi dari jurnal Carina. Seketika laut terbelah, menyibak dasar lautan tempat Trident of Poseidon berada. Jack dan Carina bergegas mencari Trident of Poseidon untuk mematahkan kutukan, menghancurkannya. Namun mereka harus berhadapan dengan Captain Salazar yang merasuk ke tubuh Henry. Setelah bertempuran yang cukup sengit, Henry dan Carina berhasil mematahkan Trident of Poseidon. Captain Salazar beserta awak kapal Silent Mary kembali menjadi manusia.

Hancurnya Trident of Poseidon membuat laut yang semula terbelah perlahan-lahan menutup kembali. Beruntung, Barbossa sigap melego jangkar Black Pearl untuk membantu Jack, Henry dan Carina naik ke kapal. Sayangnya, dendam kesumat Captain Salazar masih membawanya naik ke rantai  jangkar untuk berusaha membunuh Jack. Di tengah krisis tersebut Carina nyaris jatuh ke dasar lautan, namun Barbossa berhasil menahannya. Di lengan Barbossa, Carina melihat tato bintang yang identik dengan sampul jurnal pemberian ayahnya. Carina tidak menyianyiakan kesempatan untuk bertanya,

“What am I to you?”

“You are my treasure.”

Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang diucapkan Barbossa pada anak perempuannya sebelum ia jatuh ke dasar lautan, mengorbankan diri untuk membunuh Captain Salazar sekaligus menyelamatkan Carina.

 

Advertisements

Menyelisik Halaman-Halaman Terakhir

Ini bukan cerita tentang halaman-halaman terakhir sebuah buku bacaan yang menyimpan simbol-simbol dan kode sehingga harus diselisik. Bukan. Ini adalah tentang sebuah jurnal yang mulai saya tulisan awal tahun lalu, jurnal proses pengerjaan skripsi. Jangan bayangkan saya sudah menyelesaikan skripsi sehingga jurnal tersebut sampai pada halaman terakhir. Justru sudah satu bulan terakhir saya tidak menulis, bahkan menyentuh, jurnal tadi. Memang, sebulan terakhir ini saya hiatus menulis skripsi sebab sayang rasanya jika masa magang di salah satu kantor penerbit indie di Jogja tidak dinikmati dengan khidmat. Atau mungkin itu tadi hanya alasan untuk tidak menyebut kata: malas (?)

Dalam jurnal yang dimulai pada 31 Januari 2017, bertepatan dengan hari ujian proposal skripsi, tertulis tanggal-tanggal di mana hari itu saya melakukan hal-hal yang berkaitan dengan proses pengerjaan skripsi beserta dekripsi apa saja yang saya lakukan, dengan siapa saya berbincang, apa hasil perbincangan itu dan sejenisnya. Bagian jurnal ini hanya sedikit menyita perhatian saya, sekalipun aktivitas yang terakhir kali saya lakukan  bertanggal 13 Maret 2017. Ketika membaca catatan-catatan kecil di bagian belakang, saya justru merasa lebih tertampar dan miris.

Selain kerangka kasar resensi Drupadi dan draf tulisan Selamat Hari Dian Sastro Nasional, tertulis catatan buku apa saja yang sudah saya baca dan film yang saya tonton selama bulan Februari. Saya mencoba mengingat, lantas menuliskan apa yang sudah saya baca dan tonton selama bulan Maret hingga awal Mei. Ketika. Hasilnya? Untuk film memang minim, sebab saya memang sedang tidak berminat menonton. Maret saya tidak menonton film sama sekali, sedangkan di bulan April ada dua film: Kartini dan Jiro’s Dream of Sushi. Jika di bulan Februari saya sempat membaca sepuluh judul buku (tidak semuanya selesai), maka di bulan Maret saya hanya mampu menyelesaikan membaca Vegetarian. Sama mirisnya dengan bulan Maret, di bulan April saya hanya sanggup membaca Mengirim Mixtape Ke Lubang Tikus. Itu pun karena dorongan seorang kawan.

Saya bertanya-tanya pada diri sendiri,”Apa yang telah saya lakukan sebulan terakhir sehingga bacaan dan tontonan saya begitu minim?”. Nampaknya waktu saya telah habis untuk berselancar tak jelas di dunia digital. Kalau ada hal yang jelas dan patut dibanggakan ketika berselancar di dunia maya, hal itu adalah membaca laporan investigasi Allan Nairn yang membuat gaduh beberapa tokoh di negeri ini.

Setelah meratapi catatan-catatan di halaman belakang, saya kembali membuka halaman pertama. Di sana tertulis dengan jelas:

Sudahkah kamu membaca, menulis, mengerjakan skripsi, menonton film, berdiskusi, ngopi hari ini?

 

Gorongan, 09.09 WIB

Selepas Menonton Kartini

Air mata saya sudah menetes sejak adegan Kartini kecil meronta-ronta ingin tidur bersama ibu kandungnya, Ngasirah. Hal yang sama kembali terulang ketika melihat adegan Ngasirah membujuk Kartini agar mau menjadi Raden Ayu, kebebasan Het Klaverblad berkorespondensi dengan Mevrouw Ovink-Soer dibatasi oleh Slamet, Kardinah terpaksa menerima pinangan dari seorang bupati yang telah memiliki tiga orang istri, konflik Kartini dengan Raden Ayu Moeriem, penjelasan Ngasirah mengenai kisah asmaranya dengan Raden Mas Ario Sosroningrat dan masih banyak adegan yang membuat saya tak kuasa menahan tangis.

Meski di awal saya merasa Dian Sastro membawa karakter slengekan Cinta dalam AADC, lambat laut perasaan itu terkikis melihat hubungan emosionalnya dengan Acha Septriasa dan Ayushita yang memerankan Roekmini dan Kardinah terjalin begitu kuat. Begitu pula ketika Dian beradu akting dengan Christine Hakim. Mereka mampu menunjukkan hubungan emosional antara ibu dan anak yang berkualitas.

Selain Kartini yang menjadi tokoh sentral, pertalian Het Klaverblad juga menjadi perhatian saya. Kartini menjadi motor penggerak saudari-saudarinya dalam masa pingitan yang harus mereka jalani sampai ada lelaki datang melamar, menjadikan mereka seorang Raden Ayu.Ia yang mengajak kedua adiknya untuk giat membaca dan menulis. Bersama saudari-saudarinya, Kartini berupaya melakukan pemberdayaan masyarakat Japara khususnya kaum perempuan. Dalam masa pingitan itu pula, mereka bertiga mengembangkan gagasan-gagasan emansipasi seperti persamaan hak belajar, menentang poligami, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam menjalani rumah tangga  hingga bagaimana menjadi perempuan mandiri yang berdaya dan mampu memberdayakan sekitar.

Film biografi berdurasi 122 menit ini terlihat berusaha menampilkan konflik-konflik kehidupan yang dialami oleh Kartini. Problema keluarga, percintaan, perkawinan, hubungan sosial masyarakat baik dengan masyarakat Japara, pemerintah Belanda hingga para priyayi yang dihadirkan mampu meninggalkan kesan betapa beratnya kehidupan yang dijalani oleh seorang Kartini di masa itu.

Adegan Kartini memohon restu sekaligus  berpamitan pada ibunya untuk menjadi seorang Raden Ayu menutup film ini dengan apik. Kartini  yang semula terkesan anti-poligami akhirnya legowo diperistri oleh Raden Adipati Joyoningrat, Bupati Rembang. Penerimaan Kartini tidak bisa diartikan bahwa ia telah kalah secara ideologi, melainkan ia memilih berkompromi dalam mewujudkan cita-citanya: emansipasi perempuan. Raden Adipati Joyoningrat, meski telah memiliki beberapa orang istri, sangat mengagumi dan mau mendukung cita-cita Kartini.

 

Gorongan, 27 April 2017

01.45 WIB

 

 

I won’t get married, I prefer to be a nun.

Mulanya ia bertanya hal-hal remeh temeh seperti yang biasa ditanyakan gadis kecil berusia delapan tahun seumurannya. Namun saya tak menyangka ia akan mengeluarkan pernyataan yang menohok perasaan saya, gadis berusia 22 tahun yang tengah berupaya menyelesaikan skripsi dan tak lain tak bukan adalah tante dari pihak ibunya.

“Aku nggak mau nikah.”

Ketika ditanya apa alasannya ia menerangkan bahwa ia tak ingin memiliki ibu mertua galak seperti halnya yang sudah ia tonton di beragam sinetron di layar kaca. Ia memang gemar sekali menonton sinetron, mulai dari sinetron Indonesia, Filipina, India, hingga Turki. Semua tokoh hingga alur cerita, ia hafal betul di luar kepala. Tak ingin ia terjebak dalam stereotip yang tak bisa digeneralisir, saya mencoba mendebatnya.

“Lha emangnya Yangti galak sama Bude Dinda?”

“Enggak.”

“Emangnya Yangti galak sama Papahmu?”

“Enggak.”

“Nah, kamu ga pengen cari mertua yang kaya Yangti?”

“Pengen”

“Yaudah, berarti kan ngga semua mertua itu galak kan?”

“Pokoknya aku ga mau nikah. Mau jadi suster aja!”

Keengganan untuk menikah dan keinginannya untuk menjadi suster menutup perdebatan kami pagi ini. Segera saja kengerian muncul di benak saya. Dampak negatif media televisi baru saja hadir di depan saya. Kekuatan audio visual telah mencengkeram kepolosan keponakan saya sendiri.

Padahal, baru sehari sebelumnya saya membaca kisah-kisah yang membuat saya turut nelangsa pada apa yang dihadapi oleh perempuan-perempuan dalam kisah itu. Beberapa kawan saya yang sudah membaca kisah-kisah itu turut merasa nelangsa dan seakan enggan untuk menikah. Setidaknya berpikir masak-masak berulangkali sebelum memutuskan untuk menikah. Di saat kawan-kawan saya selalu mengeluhkan beratnya skripsi, menyatakan keinginan untuk segera menikah saja, hidup bahagia bersama suami dan mengurus anak-anak yang lucu, keponakan saya yang masih duduk di kelas 2 sekolah dasar telah begitu tegas menyatakan tidak ingin menikah.

It’s about flowers

Ada begitu banyak lagu, puisi, novel, dan karya-karya lain yang diksinya berkaitan dengan bunga. Mulai dari Bunga dan Tembok (Widji Thukul), Bunga di Tepi Jalan (Sheila on 7), Flower in The Desert (Dewa 19), hingga Fading Flower (Yuna). Bunga mawar, malah kelewat laris digunakan. Mulai dari  Gammer Gurton’s Garland dengan sajak Valentine klisenya,The rose is red, the violet’s blue, The honey’s sweet, and so are you.”, The Name of The Rose karangan Umberto Eco hingga judul lagu La Vie En Rose milik Louis Armstrong.

Mencoba mengingat kembali persinggungan saya dengan bunga, barangkali saya menjadi lebih jatuh cinta pada tumbuhan ini setelah rajin berkunjung ke Covencove, salah satu kedai ekletik di Semarang yang selalu menggunakan bunga krisan sebagai dekorasi. Entah kenapa, bunga krisan yang selalu menemani saya menikmati kopi, taco, dan membaca buku selalu membawa rasa tenang, nyaman, damai, dan bahagia.

Setelah tiga minggu terakhir absen mengunjungi Covencove karena sedang magang di salah satu kantor penerbit indie di Jogja, saya menjadi rindu dengan bunga-bunga yang senantiasa menyambut saya. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli bunga dan menaruhnya di botol bekas kemasan minuman. Sama seperti yang dilakukan Covencove.

Padahal, jika diingat-ingat kembali, dulu saya begitu sok perkara bunga. Saya mendeklarasikan diri tidak menyukai bunga potong, melainkan bunga yang masih tertanam di pot. Bunga potong dan buket bunga saya anggap mencederai keindahan bunga itu sendiri. Sekarang, saya tahu kenapa seseorang bisa begitu riang hanya karena diberi setangkai mawar seharga lima ribu rupiah. Pun saya sangat menikmati menghirup aroma melati yang tumbuh di pagar kontrakan teman. Saya tidak peduli dengan permaknaan dari setiap jenis bunga. Asalkan saya senang, itu sudah cukup.

Berkomentar Queisha Pada Buku Pemenang Man Booker Prize 2016

Syahdan, suatu sore yang basah di akhir pekan saya merebahkan diri di sofa ruang keluarga sembari menghadapi flu berat. Namun rasa pening di kepala dan ingus yang terus menetes tak mampu menghalangi saya untuk menuntaskan membaca Vegetarian, novel pemenang Man Booker Prize 2016. Tak berapa lama, novel karangan Han Kang itu pun selesai saya baca. Bagi saya pribadi, Han Kang sukses menarasikan ketidaksukaan Yeong-Hye terhadap bra dibandingkan kondisi seorang penderita skizofrenia ataupun pergulatan batin kakak Yeong-Hye ketika mendapati suaminya berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri.

Keanggunan sampul novel terbitan penerbit baca ini rupanya menarik perhatian kedua keponakan saya yang masing-masing masih duduk di bangku  kelas 2 dan kelas 5 sekolah dasar. Mereka menghampiri tantenya yang librocubicularist itu, lantas Evis–si sulung–bertanya,

“Itu ceritanya tentang apa to, Tante? Kok tebel banget!.”, katanya dengan bahasa Indonesia beraksen medok Jogja

Sulit rasanya untuk menyampaikan secara sederhana kepada siswa-siswi SD Kanisius Demangan Baru ini perihal apa dan bagaimana skizofrenia yang dialami Yong-Hye beserta tekanan batin yang dialami oleh kakaknya. Bagaimana saya menjelaskan novel berjudul Vegetarian, namun sama sekali tidak menceritakan kehidupan seorang vegetarian itu pada mereka?

Saya pun memutuskan untuk menceritakan bahwa ada seorang perempuan yang bermimpi melihat potongan-potongan tubuh dan darah. Ketika perempuan itu melihat genangan darah, ia menemukan bayangan wajahnya sendiri. Ia merasa seakan dirinya telah menjadi pembunuh. Lantas ketika  ia bangun dari mimpi, ia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian karena trauma. Setiap ia melihat daging dan darah, ia selalu teringat pada  mimpinya.

“Ih, ngapain nggak makan daging, lha wong Olive* masih enak!”, tukas Que sambil berlalu menuju tumpukan squishy koleksinya.

 

*Salah satu merk waralaba ayam goreng crispy

Sajian Bergizi dari Warung Hati

Sabtu, 1 April 2017.

Selepas mengucap salam perpisahan pada adik saya di bandara Juanda, saya kembali ke kota Surabaya. Tepatnya menuju C2O Library di Jalan Sucipto No. 22. Ketika masih dalam perjalanan, saya sempat melirik jam di layar smartphone. Pukul 13.30. Jika beruntung, mungkin nanti saya bisa tiba di sana kurang dari pukul 14.00 dan mungkin juga masih ada beberapa menu dari Warung Hati yang masih tersedia.

Setibanya di C2O Library, saya langsung menanyakan lokasi Warung Hati yang ternyata terletak di bagian belakang gedung. Ruangan bernuansa klasik itu nampak sepi, namun ada beberapa orang di balik tembok. Ketika saya menghampiri orang-orang yang sedang berdiri di balik etalase untuk memesan makanan, mereka menyambut  dengan ramah. Sayangnya, saat itu hanya tersisa Pad Thai , ayam pop,sambel lombok ijo, botok jagung muda, pepes tempe kacang merah dan es degan saja. Kue lumpur sorgum yang saya dambakan sudah habis tak bersisa. Karena lidah saya kurang njowo, pilihan saya jatuh pada Pad Thai dan es degan.

Sembari menunggu menu yang saya pesan tadi, saya menikmati desain interior Warung Hati. Sederhana dan klasik. Tak berapa lama pesanan saya datang. Raw Pad Thai yang saya pesan disajikan dengan begitu anggun dan cantik. Sekilas makanan ini terlihat seperti mi, namun sejatinya makanan ini terdiri dari wortel, kol ungu, timun zukini, paprika, selada, dan kacang-kacangan serta bumbu khas Pad Thai untuk disiramkan sekaligus memberi citarasa yang unik. Es degan yang saya pesan tak kalah enak. Air kelapa muda yang dipakai masih segar, daging kelapanya empuk dan lembut, sedangkan takaran gula merah yang digunakan terasa pas untuk mengobati rasa haus setelah menembus jalanan Sidoarjo-Surabaya yang padat.

Ketika hendak membayar, saya diajak duduk di salah satu sofa yang berada di sudut ruangan. Ia dengan ramah menanyakan komentar saya tentang menu yang saya pesan dan darimana saya mengetahui keberadaan Warung Hati. Tentu saya merasa senang sekali dapat menyampaikan kepuasan terhadap makanan yang sudah saya makan secara langsung. Saya sendiri mengetahui keberadaan Warung Hati lewat C2O Library melalui media sosial instagram. Benar-benar sebuah keberuntungan saya masih berada di Surabaya bersamaan dengan hari Warung Hati beroperasi. Sejauh ini Warung Hati hanya buka pada hari Sabtu saja, nanti jika sudah memiliki pegawai mungkin akan buka setiap hari. Begitu  penjelasan yang saya dapat. Hal lain yang membuat saya merasa patut mengunjungi Warung Hati adalah, menurut informasi di instagram bahan-bahan yang dipakai selalu terjaga kesegarannya. Terbukti benar adanya setelah saya mencicipinya secaralangsung.

Barangkali tempat makan ini dinamai Warung Hati karena setiap masakannya disajikan dari hati sang juru masak untuk membahagiakan hati si pelanggan.

APRIL FOOLS: Quick Escape to C20 Library

Akhir pekan ini saya memiliki agenda perjalanan darat yang cukup ketat. Maraton dimulai pada hari Jumat sore dari Yogyakarta menuju Surabaya untuk mengucapkan “Sampai jumpa!” pada adik saya yang hendak melaksanakan on job training di Manado selama tiga bulan (baca: tidak bisa berkumpul ketika lebaran). Pada hari Minggu pagi saya akan bertolak dari Surabaya menuju Semarang untuk mengisi pelatihan pengurus himpunan mahasiswa tempat di mana saya bernaung. Senin pagi, karena jam kantor tempat saya magang dimulai pukul 10.00, saya akan kembali ke Yogyakarta. Di sela sempitnya waktu yang saya miliki, hari ini (Sabtu, 1/4) saya akhirnya bisa mengunjungi salah satu tempat yang menurut saya patut dikunjungi: C20 Library & Collabtive. Salah satu co-working space di kota pahlawan ini terletak di jalan Dr. Sucipto no.22.

.

Setelah menembus jalanan yang panas dan macet dari Bandara Juanda, saya disambut hangat oleh salah seorang pengurus di meja informasi. Karena lapar saya memutuskan untuk terlebih dahulu makan siang di Warung Hati (cerita tentang Warung Hati akan diunggah secara terpisah) baru kemudian menyempatkan untuk menikmati koleksi perpustakaan.

Ada ratusan, bahkan mungkin ribuan buku yang tertangkap mata. Terdiri dari beragam genre mulai dari novel, komik, majalah, kliping, zine hingga buku-buku pengetahuan semua ada di sana. Tak hanya layanan pustaka, C20 juga menyediakan album band-band indie, buku-buku indie, merchandise, sampai kartu pos.