Selepas Menonton Kartini

Air mata saya sudah menetes sejak adegan Kartini kecil meronta-ronta ingin tidur bersama ibu kandungnya, Ngasirah. Hal yang sama kembali terulang ketika melihat adegan Ngasirah membujuk Kartini agar mau menjadi Raden Ayu, kebebasan Het Klaverblad berkorespondensi dengan Mevrouw Ovink-Soer dibatasi oleh Slamet, Kardinah terpaksa menerima pinangan dari seorang bupati yang telah memiliki tiga orang istri, konflik Kartini dengan Raden Ayu Moeriem, penjelasan Ngasirah mengenai kisah asmaranya dengan Raden Mas Ario Sosroningrat dan masih banyak adegan yang membuat saya tak kuasa menahan tangis.

Meski di awal saya merasa Dian Sastro membawa karakter slengekan Cinta dalam AADC, lambat laut perasaan itu terkikis melihat hubungan emosionalnya dengan Acha Septriasa dan Ayushita yang memerankan Roekmini dan Kardinah terjalin begitu kuat. Begitu pula ketika Dian beradu akting dengan Christine Hakim. Mereka mampu menunjukkan hubungan emosional antara ibu dan anak yang berkualitas.

Selain Kartini yang menjadi tokoh sentral, pertalian Het Klaverblad juga menjadi perhatian saya. Kartini menjadi motor penggerak saudari-saudarinya dalam masa pingitan yang harus mereka jalani sampai ada lelaki datang melamar, menjadikan mereka seorang Raden Ayu.Ia yang mengajak kedua adiknya untuk giat membaca dan menulis. Bersama saudari-saudarinya, Kartini berupaya melakukan pemberdayaan masyarakat Japara khususnya kaum perempuan. Dalam masa pingitan itu pula, mereka bertiga mengembangkan gagasan-gagasan emansipasi seperti persamaan hak belajar, menentang poligami, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam menjalani rumah tangga  hingga bagaimana menjadi perempuan mandiri yang berdaya dan mampu memberdayakan sekitar.

Film biografi berdurasi 122 menit ini terlihat berusaha menampilkan konflik-konflik kehidupan yang dialami oleh Kartini. Problema keluarga, percintaan, perkawinan, hubungan sosial masyarakat baik dengan masyarakat Japara, pemerintah Belanda hingga para priyayi yang dihadirkan mampu meninggalkan kesan betapa beratnya kehidupan yang dijalani oleh seorang Kartini di masa itu.

Adegan Kartini memohon restu sekaligus  berpamitan pada ibunya untuk menjadi seorang Raden Ayu menutup film ini dengan apik. Kartini  yang semula terkesan anti-poligami akhirnya legowo diperistri oleh Raden Adipati Joyoningrat, Bupati Rembang. Penerimaan Kartini tidak bisa diartikan bahwa ia telah kalah secara ideologi, melainkan ia memilih berkompromi dalam mewujudkan cita-citanya: emansipasi perempuan. Raden Adipati Joyoningrat, meski telah memiliki beberapa orang istri, sangat mengagumi dan mau mendukung cita-cita Kartini.

 

Gorongan, 27 April 2017

01.45 WIB

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s