Meneladani Literasi Kartini

I’ve write another thing about Kartini for Indie Book Corner’s blog . It based from what I’ve read from Panggil Aku Kartini Saja and Seri Buku Tempo: Gelap-Terang Hidup Kartini. This article was published on April 21, entitled Meneladani Literasi Kartini .

Advertisements

Selepas Menonton Kartini

Air mata saya sudah menetes sejak adegan Kartini kecil meronta-ronta ingin tidur bersama ibu kandungnya, Ngasirah. Hal yang sama kembali terulang ketika melihat adegan Ngasirah membujuk Kartini agar mau menjadi Raden Ayu, kebebasan Het Klaverblad berkorespondensi dengan Mevrouw Ovink-Soer dibatasi oleh Slamet, Kardinah terpaksa menerima pinangan dari seorang bupati yang telah memiliki tiga orang istri, konflik Kartini dengan Raden Ayu Moeriem, penjelasan Ngasirah mengenai kisah asmaranya dengan Raden Mas Ario Sosroningrat dan masih banyak adegan yang membuat saya tak kuasa menahan tangis.

Meski di awal saya merasa Dian Sastro membawa karakter slengekan Cinta dalam AADC, lambat laut perasaan itu terkikis melihat hubungan emosionalnya dengan Acha Septriasa dan Ayushita yang memerankan Roekmini dan Kardinah terjalin begitu kuat. Begitu pula ketika Dian beradu akting dengan Christine Hakim. Mereka mampu menunjukkan hubungan emosional antara ibu dan anak yang berkualitas.

Selain Kartini yang menjadi tokoh sentral, pertalian Het Klaverblad juga menjadi perhatian saya. Kartini menjadi motor penggerak saudari-saudarinya dalam masa pingitan yang harus mereka jalani sampai ada lelaki datang melamar, menjadikan mereka seorang Raden Ayu.Ia yang mengajak kedua adiknya untuk giat membaca dan menulis. Bersama saudari-saudarinya, Kartini berupaya melakukan pemberdayaan masyarakat Japara khususnya kaum perempuan. Dalam masa pingitan itu pula, mereka bertiga mengembangkan gagasan-gagasan emansipasi seperti persamaan hak belajar, menentang poligami, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam menjalani rumah tangga  hingga bagaimana menjadi perempuan mandiri yang berdaya dan mampu memberdayakan sekitar.

Film biografi berdurasi 122 menit ini terlihat berusaha menampilkan konflik-konflik kehidupan yang dialami oleh Kartini. Problema keluarga, percintaan, perkawinan, hubungan sosial masyarakat baik dengan masyarakat Japara, pemerintah Belanda hingga para priyayi yang dihadirkan mampu meninggalkan kesan betapa beratnya kehidupan yang dijalani oleh seorang Kartini di masa itu.

Adegan Kartini memohon restu sekaligus  berpamitan pada ibunya untuk menjadi seorang Raden Ayu menutup film ini dengan apik. Kartini  yang semula terkesan anti-poligami akhirnya legowo diperistri oleh Raden Adipati Joyoningrat, Bupati Rembang. Penerimaan Kartini tidak bisa diartikan bahwa ia telah kalah secara ideologi, melainkan ia memilih berkompromi dalam mewujudkan cita-citanya: emansipasi perempuan. Raden Adipati Joyoningrat, meski telah memiliki beberapa orang istri, sangat mengagumi dan mau mendukung cita-cita Kartini.

 

Gorongan, 27 April 2017

01.45 WIB

 

 

I won’t get married, I prefer to be a nun.

Mulanya ia bertanya hal-hal remeh temeh seperti yang biasa ditanyakan gadis kecil berusia delapan tahun seumurannya. Namun saya tak menyangka ia akan mengeluarkan pernyataan yang menohok perasaan saya, gadis berusia 22 tahun yang tengah berupaya menyelesaikan skripsi dan tak lain tak bukan adalah tante dari pihak ibunya.

“Aku nggak mau nikah.”

Ketika ditanya apa alasannya ia menerangkan bahwa ia tak ingin memiliki ibu mertua galak seperti halnya yang sudah ia tonton di beragam sinetron di layar kaca. Ia memang gemar sekali menonton sinetron, mulai dari sinetron Indonesia, Filipina, India, hingga Turki. Semua tokoh hingga alur cerita, ia hafal betul di luar kepala. Tak ingin ia terjebak dalam stereotip yang tak bisa digeneralisir, saya mencoba mendebatnya.

“Lha emangnya Yangti galak sama Bude Dinda?”

“Enggak.”

“Emangnya Yangti galak sama Papahmu?”

“Enggak.”

“Nah, kamu ga pengen cari mertua yang kaya Yangti?”

“Pengen”

“Yaudah, berarti kan ngga semua mertua itu galak kan?”

“Pokoknya aku ga mau nikah. Mau jadi suster aja!”

Keengganan untuk menikah dan keinginannya untuk menjadi suster menutup perdebatan kami pagi ini. Segera saja kengerian muncul di benak saya. Dampak negatif media televisi baru saja hadir di depan saya. Kekuatan audio visual telah mencengkeram kepolosan keponakan saya sendiri.

Padahal, baru sehari sebelumnya saya membaca kisah-kisah yang membuat saya turut nelangsa pada apa yang dihadapi oleh perempuan-perempuan dalam kisah itu. Beberapa kawan saya yang sudah membaca kisah-kisah itu turut merasa nelangsa dan seakan enggan untuk menikah. Setidaknya berpikir masak-masak berulangkali sebelum memutuskan untuk menikah. Di saat kawan-kawan saya selalu mengeluhkan beratnya skripsi, menyatakan keinginan untuk segera menikah saja, hidup bahagia bersama suami dan mengurus anak-anak yang lucu, keponakan saya yang masih duduk di kelas 2 sekolah dasar telah begitu tegas menyatakan tidak ingin menikah.

It’s about flowers

Ada begitu banyak lagu, puisi, novel, dan karya-karya lain yang diksinya berkaitan dengan bunga. Mulai dari Bunga dan Tembok (Widji Thukul), Bunga di Tepi Jalan (Sheila on 7), Flower in The Desert (Dewa 19), hingga Fading Flower (Yuna). Bunga mawar, malah kelewat laris digunakan. Mulai dari  Gammer Gurton’s Garland dengan sajak Valentine klisenya,The rose is red, the violet’s blue, The honey’s sweet, and so are you.”, The Name of The Rose karangan Umberto Eco hingga judul lagu La Vie En Rose milik Louis Armstrong.

Mencoba mengingat kembali persinggungan saya dengan bunga, barangkali saya menjadi lebih jatuh cinta pada tumbuhan ini setelah rajin berkunjung ke Covencove, salah satu kedai ekletik di Semarang yang selalu menggunakan bunga krisan sebagai dekorasi. Entah kenapa, bunga krisan yang selalu menemani saya menikmati kopi, taco, dan membaca buku selalu membawa rasa tenang, nyaman, damai, dan bahagia.

Setelah tiga minggu terakhir absen mengunjungi Covencove karena sedang magang di salah satu kantor penerbit indie di Jogja, saya menjadi rindu dengan bunga-bunga yang senantiasa menyambut saya. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli bunga dan menaruhnya di botol bekas kemasan minuman. Sama seperti yang dilakukan Covencove.

Padahal, jika diingat-ingat kembali, dulu saya begitu sok perkara bunga. Saya mendeklarasikan diri tidak menyukai bunga potong, melainkan bunga yang masih tertanam di pot. Bunga potong dan buket bunga saya anggap mencederai keindahan bunga itu sendiri. Sekarang, saya tahu kenapa seseorang bisa begitu riang hanya karena diberi setangkai mawar seharga lima ribu rupiah. Pun saya sangat menikmati menghirup aroma melati yang tumbuh di pagar kontrakan teman. Saya tidak peduli dengan permaknaan dari setiap jenis bunga. Asalkan saya senang, itu sudah cukup.

Berkomentar Queisha Pada Buku Pemenang Man Booker Prize 2016

Syahdan, suatu sore yang basah di akhir pekan saya merebahkan diri di sofa ruang keluarga sembari menghadapi flu berat. Namun rasa pening di kepala dan ingus yang terus menetes tak mampu menghalangi saya untuk menuntaskan membaca Vegetarian, novel pemenang Man Booker Prize 2016. Tak berapa lama, novel karangan Han Kang itu pun selesai saya baca. Bagi saya pribadi, Han Kang sukses menarasikan ketidaksukaan Yeong-Hye terhadap bra dibandingkan kondisi seorang penderita skizofrenia ataupun pergulatan batin kakak Yeong-Hye ketika mendapati suaminya berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri.

Keanggunan sampul novel terbitan penerbit baca ini rupanya menarik perhatian kedua keponakan saya yang masing-masing masih duduk di bangku  kelas 2 dan kelas 5 sekolah dasar. Mereka menghampiri tantenya yang librocubicularist itu, lantas Evis–si sulung–bertanya,

“Itu ceritanya tentang apa to, Tante? Kok tebel banget!.”, katanya dengan bahasa Indonesia beraksen medok Jogja

Sulit rasanya untuk menyampaikan secara sederhana kepada siswa-siswi SD Kanisius Demangan Baru ini perihal apa dan bagaimana skizofrenia yang dialami Yong-Hye beserta tekanan batin yang dialami oleh kakaknya. Bagaimana saya menjelaskan novel berjudul Vegetarian, namun sama sekali tidak menceritakan kehidupan seorang vegetarian itu pada mereka?

Saya pun memutuskan untuk menceritakan bahwa ada seorang perempuan yang bermimpi melihat potongan-potongan tubuh dan darah. Ketika perempuan itu melihat genangan darah, ia menemukan bayangan wajahnya sendiri. Ia merasa seakan dirinya telah menjadi pembunuh. Lantas ketika  ia bangun dari mimpi, ia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian karena trauma. Setiap ia melihat daging dan darah, ia selalu teringat pada  mimpinya.

“Ih, ngapain nggak makan daging, lha wong Olive* masih enak!”, tukas Que sambil berlalu menuju tumpukan squishy koleksinya.

 

*Salah satu merk waralaba ayam goreng crispy

Sajian Bergizi dari Warung Hati

Sabtu, 1 April 2017.

Selepas mengucap salam perpisahan pada adik saya di bandara Juanda, saya kembali ke kota Surabaya. Tepatnya menuju C2O Library di Jalan Sucipto No. 22. Ketika masih dalam perjalanan, saya sempat melirik jam di layar smartphone. Pukul 13.30. Jika beruntung, mungkin nanti saya bisa tiba di sana kurang dari pukul 14.00 dan mungkin juga masih ada beberapa menu dari Warung Hati yang masih tersedia.

Setibanya di C2O Library, saya langsung menanyakan lokasi Warung Hati yang ternyata terletak di bagian belakang gedung. Ruangan bernuansa klasik itu nampak sepi, namun ada beberapa orang di balik tembok. Ketika saya menghampiri orang-orang yang sedang berdiri di balik etalase untuk memesan makanan, mereka menyambut  dengan ramah. Sayangnya, saat itu hanya tersisa Pad Thai , ayam pop,sambel lombok ijo, botok jagung muda, pepes tempe kacang merah dan es degan saja. Kue lumpur sorgum yang saya dambakan sudah habis tak bersisa. Karena lidah saya kurang njowo, pilihan saya jatuh pada Pad Thai dan es degan.

Sembari menunggu menu yang saya pesan tadi, saya menikmati desain interior Warung Hati. Sederhana dan klasik. Tak berapa lama pesanan saya datang. Raw Pad Thai yang saya pesan disajikan dengan begitu anggun dan cantik. Sekilas makanan ini terlihat seperti mi, namun sejatinya makanan ini terdiri dari wortel, kol ungu, timun zukini, paprika, selada, dan kacang-kacangan serta bumbu khas Pad Thai untuk disiramkan sekaligus memberi citarasa yang unik. Es degan yang saya pesan tak kalah enak. Air kelapa muda yang dipakai masih segar, daging kelapanya empuk dan lembut, sedangkan takaran gula merah yang digunakan terasa pas untuk mengobati rasa haus setelah menembus jalanan Sidoarjo-Surabaya yang padat.

Ketika hendak membayar, saya diajak duduk di salah satu sofa yang berada di sudut ruangan. Ia dengan ramah menanyakan komentar saya tentang menu yang saya pesan dan darimana saya mengetahui keberadaan Warung Hati. Tentu saya merasa senang sekali dapat menyampaikan kepuasan terhadap makanan yang sudah saya makan secara langsung. Saya sendiri mengetahui keberadaan Warung Hati lewat C2O Library melalui media sosial instagram. Benar-benar sebuah keberuntungan saya masih berada di Surabaya bersamaan dengan hari Warung Hati beroperasi. Sejauh ini Warung Hati hanya buka pada hari Sabtu saja, nanti jika sudah memiliki pegawai mungkin akan buka setiap hari. Begitu  penjelasan yang saya dapat. Hal lain yang membuat saya merasa patut mengunjungi Warung Hati adalah, menurut informasi di instagram bahan-bahan yang dipakai selalu terjaga kesegarannya. Terbukti benar adanya setelah saya mencicipinya secaralangsung.

Barangkali tempat makan ini dinamai Warung Hati karena setiap masakannya disajikan dari hati sang juru masak untuk membahagiakan hati si pelanggan.

APRIL FOOLS: Quick Escape to C20 Library

Akhir pekan ini saya memiliki agenda perjalanan darat yang cukup ketat. Maraton dimulai pada hari Jumat sore dari Yogyakarta menuju Surabaya untuk mengucapkan “Sampai jumpa!” pada adik saya yang hendak melaksanakan on job training di Manado selama tiga bulan (baca: tidak bisa berkumpul ketika lebaran). Pada hari Minggu pagi saya akan bertolak dari Surabaya menuju Semarang untuk mengisi pelatihan pengurus himpunan mahasiswa tempat di mana saya bernaung. Senin pagi, karena jam kantor tempat saya magang dimulai pukul 10.00, saya akan kembali ke Yogyakarta. Di sela sempitnya waktu yang saya miliki, hari ini (Sabtu, 1/4) saya akhirnya bisa mengunjungi salah satu tempat yang menurut saya patut dikunjungi: C20 Library & Collabtive. Salah satu co-working space di kota pahlawan ini terletak di jalan Dr. Sucipto no.22.

.

Setelah menembus jalanan yang panas dan macet dari Bandara Juanda, saya disambut hangat oleh salah seorang pengurus di meja informasi. Karena lapar saya memutuskan untuk terlebih dahulu makan siang di Warung Hati (cerita tentang Warung Hati akan diunggah secara terpisah) baru kemudian menyempatkan untuk menikmati koleksi perpustakaan.

Ada ratusan, bahkan mungkin ribuan buku yang tertangkap mata. Terdiri dari beragam genre mulai dari novel, komik, majalah, kliping, zine hingga buku-buku pengetahuan semua ada di sana. Tak hanya layanan pustaka, C20 juga menyediakan album band-band indie, buku-buku indie, merchandise, sampai kartu pos.