Prince dan Kertas

Memasuki semester delapan dengan enam SKS tanpa mengambil satu pun mata kuliah secara otomatis akan membuat saya memiliki waktu luang lebih banyak dari semester-semester sebelumnya, atau singkatnya mahasiswa pengangguran. Jika tidak bisa mengisi waktu dengan baik, kehidupan tidak produktif menanti di depan mata. Semoga peristiwa di bawah ini bisa ditransformasikan dalam bentuk visual, sehingga saya ada kerjaan dan tidak menekuni profesi sebagai pengangguran.

*

Dalam perjalanan menuju rumah Budhe, saya menyempatkan diri singgah ke salah satu toko buku di Jalan Pandanaran untuk mencari buku Pemenang Sayembara DKJ 2016 berjudul Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Dengan sangat percaya diri saya langsung menuju rak novel Indonesia. Nihil. Pencarian berlanjut ke komputer. Stok buku tersebut masih berlimpah, namun lokasi penempatan buku menunjukkan seperti ini : No Location. Barangkali buku ini masih di tumpuk di bagian New Arrival, pikir saya. Benar rupanya, buku bersampul dominan warna hijau dengan ikan-ikan yang seolah sedang terbang di langit itu masih menghuni tumpukan New Arrival. Satu buku sudah ditangan. Untuk memenuhi syarat promo diskon 50% pada buku kedua (dengan harga lebih murah) yang sedang diadakan di toko buku saya memutuskan membeli salah satu karya Oscar Wilde yang telah beredar sejak 6 Februari lalu : The Happy Prince and other tales. Permasalahan kembali terjadi, lokasi buku ini tidak tersedia di komputer pencarian dan tidak saya temukan di tumpukan New Arrival maupun sastra terjemahan.

Setelah berupaya seorang sendiri mengelilingi tumpukan buku dan rak dengan genre yang memungkinkan buku bersampul seorang pangeran itu diletakkan, akhirnya saya menyerah lantas meminta bantuan pada seorang pramuniaga. Ketika saya tunjukkan foto buku tersebut dari instagram, ia segera melakukan pencarian. Ia mengaku merasa tak asing dengan sampul buku itu. Saya yang sudah lelah, memilih menunggu di dekat rak yang dikhususkan untuk buku-buku karya Tere Liye supaya pramuniaga tadi tidak kesulitan menemukan saya. Tiba-tiba mata saya menangkap sosok jangkung berkaus hitam yang tidak asing, salah seorang kawan saya di kampus.

Akbar !”

Rupanya mahasiswa jurusan sejarah itu sedang mencari buku Ayu Utami yang berjudul Larung. Sayangnya stok buku tersebut sudah habis. Ia pun memutuskan membeli Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma. Sementara kami mendiskusikan sebaiknya apa buku kedua yang akan dibeli Akbar, pramuniaga tadi  belum juga menemukan buku yang saya mau.

Jajal goleki The Little Prince, mengko lak ketemu.”, kata rekannya sesama pramuniaga.

Tak lama, saya mendapat informasi dari Irman melalui pesan singkat bahwa buku itu terletak di rak Wordsworth Classic. Irman benar. Pramuniaga tadi langsung mengambilkan buku tersebut dan mengangsurkannya kepada saya.

Akbar lalu memutuskan untuk membeli Rumah Kertas. Buku itu adalah terjemahan dari La Casa de Papel karangan Carlos Maria Dominguez. Sebuah pilihan bagus karena saya sendiri sudah menamatkannya dalam waktu dua jam, bulan Januari lalu. Masih tersedia empat eksemplar tanpa keterangan lokasi, begitu informasi yang ia dapat dari komputer pencarian. Bagi saya, mencari empat eksemplar buku tanpa keterangan lokasi yang jelas tak ubahnya mencari jarum di tumpukan jerami. Sepaham, Akbar meminta bantuan dari pramuniaga untuk mencarikan buku yang ia mau. Pramuniaga yang membantu Akbar nampaknya tidak semuda pramuniaga yang membantu saya tadi. Mungkin ia berusia sekitar akhir 30-an atau awal 40-an. Rekannya–kurang lebih berusia sama– juga turut memberi saran yang menurutnya dirasa membantu. Terdengar jelas di telinga kami,

Jajal goleki Perahu Kertas, mengko lak mesti ketemu Rumah Kertas!”, serunya mantap tanpa keraguan.

Saya tersenyum. Akbar tersenyum.

Beberapa saat kemudian seorang pramuniaga menghampiri kami,

“Bukunya sudah diretur, Mas.”

NDX AKA Familia dan Raisa, Magnet Terkuat Festival MocoSik

Bukan Endah n Rhesa, Tompi, Glenn Fredly maupun White Shoes & The Couples Company yang menjadi magnet terbesar untuk menarik pengunjung datang ke Festival MocoSik, melainkan NDX AKA  Familia dan Raisa. Ratusan orang mengantri masuk ke Hall A Jogja Expo Center sambil memegang buku tiket erat-erat. Pasangan-pasangan yang hendak merayakan Valentine dan barisan lelaki-lelaki patah hati mendominasi antrian malam itu.

“Iki opo to, kok tikete ditemplekne ndek buku?”

“Paling iki nonton konser gratis buku, Dab. Dadi dhewe nonton konser, lha pas ngenteni nyanyine karo maca buku!”

”O, iyo ya. Eh, kowe durung tau nonton NDX to? Wis, pokoe kowe ora bakal nyesel. Kowe mengko kudu njoged!”

Ternyata, NDX AKA Familia yang dijadwalkan tampil sebagai pembuka pada pukul 19.00 berubah menjadi penampil kedua. Pertunjukan di hari terakhir Festival MocoSik dibuka oleh White Shoes & The Couples Company. Tak banyak penonton yang mampu mengikuti lirik lagu dengan irama 80-an meski semua tak segan untuk berdansa bersama.

“Jadi ini tuh masih ada satu penampil lagi, baru habis itu Raisa yang tampil.”, seru seorang gadis berhijab pada kawan-kawannya yang juga berhijab. Barangkali mereka adalah penggemar Raisa, barisan gadis-gadis patah hati yang rindu mantan terindah atau pernah mengalami Kali Kedua Bojo Ketikung.

Setelah White Shoes & The Couples Company mengakhir penampilannya dengan apik, Gepeng dan Alit Jabang Bayi kembali mengambil alih panggung dan penonton. Sembari menunggu NDX AKA Familia yang tengah bersiap-siap mereka mengajak para penonton berinteraksi dengan guyonan  receh namun segar. Barangkali tahun depan MocoSik akan mengundang rapper muda kontroversional yang tengah naik daun, Young Lex, kata mereka ditimpali tawa penonton.  Penonton yang tak sabar untuk bernyanyi sambil berjoged menyanyikan lagu-lagu berjudul,”Sayang”, “Bojo Ketikung” maupun “Kimcil Kepolen”. Maka ketika kedua MC kocak tersebut mengundang NDX AKA Familia ke panggung, sontak semua penonton terutama penonton lelaki menjerit histeris.

Seperti yang sudah diperkirakan, semua penonton larut dalam irama dangdut hip hop. Bahkan para Your Raisa mendadak menjadi ladyfam, ikut berjoged sembari mendendangkan lirik-lirik lagu NDX AKA Familia yang memang easy listening. Semua penonton khusyuk berjamaah meneriakkan kata “Sayaaaaang….” sepenuh hati, jiwa dan raga. Lelaki-lelaki korban gebetan, mantan dan pertemanan, terlihat sangat terpuaskan dengan penampilan Yonanda Frisna Damara.

Festival MocoSik masih belum berakhir jika Raisa belum tampil mengisi panggung utama. Gepeng dan Alit Jabang Bayi mengajak penonton memanggil Raisa,

“RAISA. RAISA. RAISA. RAISA!”

“SUKAMTI. SUKAMTI. VIA VALLEN!”, Alit Jabang Bayi menyela penonton yang sudah kebelet menonton idolanya untuk menutup Festival Mocosik sambil merayakan Valentine.

Dan Raisa yang malam itu tampil dengan rok berwarna kuning-merah jambu telah memukau sejak lagu pertama yang dinyanyikannya. Penyanyi yang dikabarkan tengah dekat dengan Hamish Daud itu tak lupa menyelipkan pesan yang mengajak penonton untuk gemar membaca,

“Kalau saya tidak membaca buku, tidak akan tercipta lagu.”, katanya.

Di hari terakhir Festival MocoSik, Hall A Jogja Expo Center benar-benar dipadati manusia. Festival pertama di Indonesia yang menggabungkan pameran buku dan penampilan musik pilihan bertajuk “Membaca Musik, Menyanyikan Buku” ini bisa dikatakan sukses menyedot perhatian  massa. Lewat para seniman musik, festival ini mengajak penonton yang hadir untuk kembali aktif membaca buku.

Terima kasih NDX AKA Familia, terima kasih Raisa.

img_1416

 

Ahok*

Pemilukada DKI Jakarta 2012

Ibukota kembali pada masa untuk memilih kepala daerahnya, memilih seorang Gubernur yang akan memimpin Jakarta dengan segala permasalahannya. Ada enam calon pasangan gubernur dan wakil gubernur,terdiri dari empat pasangan diusung partai politik dan dua pasangan independen, yang mengikuti pemilihan ini yaitu Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria, Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama , Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rachbini, Faisal Basri-Biem Benyamin,dan Alex Noerdin-Nono Sampono .

Pemilukada DKI kali ini cukup mengundang perhatian masyarakat Indonesia karena sosok Joko Widodo yang lebih dikenal dengan nama Jokowi baru saja muncul setelah mempromosikan mobil karya anak bangsa, Esemka. Ketika mengikuti pilgub DKI Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Solo pada periode kedua, sedangkan pasangannya adalah anggota Komisi II DPR-RI Fraksi Golkar, ia biasa disapa Ahok. Perhatian masyarakat tersedot oleh magnet Jokowi yang memiliki pembawaan kalem dan merakyat. Tak banyak yang menaruh perhatian kepada sosok Ahok, begitu pula dengan saya. Saya hanya melihat sosok Ahok sebagai seorang politisi dari etnis Tionghoa berbaju kotak-kotak ketika berkampanye. Tak ada kesan istimewa yang saya dapat ketika itu.

 Pilgub DKI 2012 menjadi buah bibir dimana-mana terlebih lagi ketika memasuki putaran kedua yang menyisakan calon petahana dan pasangan Jokowi-Ahok. Orang-orang menggantungkan harapan mereka kepada Jokowi-Ahok, mereka percaya pasangan ini mampu membawa perubahan bagi Jakarta dan daerah lain di Indonesia dengan program-program yang mereka tawarkan bersama tagline Jakarta Baru. Perjuangan Jokowi- Ahok meraih kursi DKI 1 dan DKI 2 tidak mudah, lawan-lawan politik berusaha menjegal langkah mereka, isu SARA sempat dihembuskan untuk menghambat kemenangan pasangan yang diusung partai PDIP dan Gerindra ini. Pada akhirnya Jokowi-Ahok memenangkan pilgub dan dilantik pada 15 Oktober 2012

Ahok, Wakil Gubernur DKI yang Temperamental (?)

Ahok marah-marah waktu rapat. Demikian berita pertama yang muncul tentangnya beberapa waktu setelah menjabat sebagi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Rekaman video kegiatan rapat Ahok bersama perwakilan buruh muncul di Youtube, menampilkan cuplikan adegan Ahok yang berbicara dengan nada tinggi dan bahasa informal kepada notulis rapat. Di era ini notulen ditulis dengan tangan di lembaran kertas. Sontak Ahok memarahi petugas tersebut, mengingat ada dana alokasi untuk laptop sedangkan notulen tetap dicatat dikertas. Ahok pun menyuruh anak buahnya untuk menggantikan notulis tersebut. Peristiwa tersebut lantas menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Itu adalah peristiwa “marah-marah” pertama yang menggegerkan masyarakat. Setelah itu setiap Ahok mengadakan rapat pasti direkam dan di-upload di youtube, entah pada rapat tersebut ia marah-marah atau tidak.

Mengapa ketika Ahok berbicara dengan nada tinggi orang lebih senang menyebutnya “marah-marah”? Menurut saya hal tersebut condong pada ketegasan, mungkin masyarakat melihat di panggung politik Indonesia terlalu banyak pejabat yang bermulut manis dan terlalu sering basa-basi sedangkan Ahok adalah pribadi yang tegas dan ceplas-ceplos. Bahkan seringkali ia mengeluarkan pernyataan-pernyataan tajam dan menggunakan bahasa informal dalam menanggapi persoalan yang terjadi. Ahok tak akan menggunakan nada tinggi dalam rapat jika konstitusi dan birokrasi berjalan seperti seharusnya tanpa berbelit belit atau pun mark up anggaran. Bukan hanya kepada jajarannya yang “bandel” ia menggunakan nada tinggi, tetapi juga kepada beberapa presenter stasiun televisi yang sengaja mengajukan pertanyaan yang provokatif dan retoris . Tentu saja semua orang pasti ingat ketika Ahok menggunakan nada tinggi dalam rapat bersama perwakilan buruh, rapat bersama Departemen Pekerjaan Umum, atau mengeluarkan pernyataan seperti, “Warga yang minta ganti rugi itu komunis. Kalau sudah miskin tahu dirilah. Kalau hidup Anda hanya mau jual beli lahan milik pemerintah, maka Anda bajingan. Pelanggaran itu jelas bagi saya.”

Topik ini seringkali dibahas setiap media yang mewawancarainya, dan jawaban Ahok selalu sama, “Kalo tu orang ga bisa dibilangin baik-baik, semprot aja”. Ketika menjadi anggota DPRD atau  Bupati cara Ahok juga seperti ini, hanya saja tidak ekspos seperti sekarang. Ini ketegasan, bukan temperamental.

Dalam beberapa video lain saya melihat Ahok sebagai seseorang yang menyenangkan, penyuka buah pisang ini hobi berkebun dan suka menonton film. Pernah suatu ketika tim Aku Cinta Masakan Indonesia mengunjungi rumahnya, Ahok begitu antusias menyambut mereka dan menjelaskan tentang masakan favoritnya, Mi Belitung. Kemudian menengok rooftop rumahnya yang dipenuhi tanaman buah-buahan, ia juga pecinta bunga anggrek.

Interaksi antara Ahok dengan masyarakat juga baik, setiap berangkat kantor ia sering menyapa warganya di jalan, akibatnya kaca mobil dinasnya sering rusak. Ia tidak segan berjabat tangan maupun berfoto bersama dengan warga. Kenyataannya, staff  Wakil Gubernur merasakan bahwa Ahok adalah atasan yang baik, tidak “sok ngebos” tetapi mampu merangkul anak buahnya.

Mengenal Ahok lewat “Jadi Jagoan ala Ahok”

Saya bersyukur Tuhan membuat saya mau menunggu lebih lama untuk menyaksikan pemutaran film-film documenter oleh InDocs di salah satu mall di kawasan Semarang. Berdasarkan poster yang saya lihat di kampus pemutaran film dimulai pukul 14.00 namun hingga waktu menunjukkan pukul 14.40 pertunjukan tak kunjung dimulai, saya mulai gelisah. Rasanya ingin segera meninggalkan tempat itu, tapi beberapa orang yang berkumpul disana tengah asyik berdiskusi, mereka tampak seperti pekerja film. Perasaan lega menjalari saya ketika seorang pemuda membuka forum sore itu tepat pukul 15.00 WIB.

 Acara ini dimulai dengan pembacaan susunan film yang akan diputar, salah satunya Jadi Jagoan ala Ahok yang berada di urutan ketiga. Saya harus memasang telinga baik-baik supaya dapat menangkap setiap kata yang diucapkan oleh narasumber mengingat film tersebut di putar di pusat perbelanjaan yang ingar bingar.

Film Dokumenter Jadi Jagoan ala Ahok mendokumentasikan perjalanan Ahok ketika berkampanye  untuk menjadi anggota DPR-RI pada Pemilu Legislatif tahun 2009. Dalam film ini digunakan efek animasi yang menggambarkan Ahok sebagai “jagoan” bernuansa Tionghoa dan sesosok bayangan hitam  mempertanyakan langkah-langkahnya. Dari film inilah saya melihat sisi lain dari Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Ahok memasuki dunia politik bukan murni atas keinginan pribadi melainkan dorongan sang ayah. Mungkin jika dulu Ahok tidak menghiraukan nasehat ayahnya, kita tidak akan pernah mengenal sosoknya di pemerintahan. Ia prihatin melihat kondisi masyarakat sekitarnya, mereka belum bisa hidup sejahtera meskipun berada di tanah yang kaya. Keinginannya adalah membantu rakyat miskin tanpa perlu menjadi miskin, jika membantu masyarakat miskin dengan dana pribadi tentu saja uang yang dimilikinya tak akan pernah cukup untuk mengentaskan kemiskinan. Maka cara untuk menolong masyarakat miskin tanpa menjadi miskin adalah menjadi pejabat, dengan jabatan ia bisa mengawasi peraturan perundangan  beserta alokasi dana APBD.

            Karier politiknya dimulai pada tahun 2003 menjadi anggota DPRD II Belitung Timur, lalu menjadi Bupati Belitung Timur pada tahun 2005-2006. Ketika Ahok menjabat sebagai Bupati, ia dengan sukses menjalankan program wajib belajar dan asuransi kesehatan bagi warganya. Pada tahun 2007, ia mencoba mencalonkan diri menjadi Gubernur Bangka Belitung namun gagal. Di tahun 2009 lewat partai Golkar ia mencalonkan diri sebagai anggota DPR-RI. Hal ini tentu saja tidak mudah karena saingan Ahok tidak sedikit dan hanya tersedia tiga kursi bagi calon legislative dari Bangka Belitung.

Keputusan ini terbilang nekat, dana kampanye yang dimiliki Ahok terbatas karena sebagian uangnya telah habis untuk kampanye pemilihan Gubernur di tahun 2007. Tidak banyak atribut kampanye yang digunakan, hanya kartu nama, spanduk dan pamflet dengan jumlah terbatas. Ahok tidak memanjakan calon pemilihnya dengan suvenir-suvenir semacam kaos, jam, kalender, bola, vcd dan sebagainya, juga tidak membuat posko kesehatan dadakan  atau pun bagi-bagi sembako seperti kebanyakan caleg. Ketika ada calon pemilih yang meminta suvenir, Ahok tegas menolak.

Konsentrasi Ahok adalah meyakinkan masyarakat Bangka Belitung untuk memilihnya sebagai wakil mereka di pemerintah pusat , menyampaikan visi misi nya untuk memajukan daerah pemilihannya dan membangun kesadaran politik warganya. Cara Ahok meyakinkan calon pemillihnya lugas dan tegas tanpa perlu bertele-tele, penjelasannya mudah dipahami  dan dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat karena logis dan argumentatif.

Ahok memanfaatkan dengan baik keberadaan layanan sms untuk menggalang dukungan dan berkampanye. Disini juga terlihat sosok Ahok yang tak kalah merakyat dengan Jokowi. Begitu ramah ia bertegur sapa dengan masyarakat Bangka Belitung, sifat ini membuat masyarakat semakin mantap memilih Ahok menjadi wakilnya di DPR-RI.

Dalam perjalananya menjadi anggota DPR-RI Ahok tak jarang diterpa isu SARA mengingat ia adalah keturunan etnis Tionghoa beragama Katolik sedangkan Bangka Belitung mayoritas keturunan Melayu dan beragama Islam, namun Ahok tak menanggapi berlebihan. Ia justru menyikapi dengan bijak dan santai. Atribut kampanye berupa spanduk juga pernah diberedel oleh oknum tak dikenal, hal itu justru menunjukkan ketakutan calon lain akan terpilihnya Ahok.

Dalam masa kampanye Ahok dibantu oleh relawan-relawan yang tulus, mereka adalah tim sukses yang rela tidak dibayar untuk memenangkan Ahok karena mereka menaruh harapan besar dan percaya kepada mantan Bupati Belitung Timur ini untuk membawa kemajuan bagi daerahnya. Mereka tidak mempermasalahkan etnis dan agama yang dianut Ahok karena telah merasakan bukti nyata dari kepemimpinannya dulu. Bahkan disini terlihat tenggang rasa Ahok terhadap umat muslim, ia memprakarsai perbaikan sebuah mushola di pantai . Mengingat kondisi mushola tersebut yang kurang layak sebagai tempat beribadah dan akses air bersih yang sulit. Hal ini dilakukannya ketika masih menjabat sebagai Bupati Belitung Timur.  Ahok memang bukan seorang muslim, namun ia berjiwa Islam. Diakhir film ini Ahok berhasil menjadi anggota DPR RI dengan perolehan suara mencapai 35 %. Setelah menjadi anggota DPR Ahok selalu transparan dalam bekerja. Hal ini dapat dilihat melalui situs pribadinya, ahok.org

Diskusi ini dihadiri oleh sang sutradara, Amelia Hapsari. Selain itu hadir pula Dimas Jayasrana (pembuat film) dan Budi Irawanto (dosen ilmu komunikasi UGM) yang menyatakan film ini adalah film yang bagus. Bahkan Dimas Jayasrana berkomentar bahwa film dokumenter perjalanan Ahok menjadi anggota DPR-RI jauh lebih bagus dibandingkan dengan kisah Jokowi yang diangkat ke layar lebar (tanpa seizin Jokowi). Film ini berhasil memenangkan nominasi Film Terbaik, Kategori Dokumenter Pendek, Festival Film Dokumenter 2012.

Beruntung sore itu Tuhan menahan langkah saya untuk pulang, kalau tidak saya tentu tidak akan menjadi lebih penasaran dengan sosok pria berdarah Tionghoa keturunan suku Hakka ini.

Bersih, Transparan, Profesional

Menuliskan tentang Ahok dalam sepuluh halaman ternyata bukan hal yang mudah bagi saya, pengetahuan yang terbatas sekaligus bukan merupakan warga Jakarta yang merasakan kepemimpinannya secara langsung menjadi batu sandungan dalam penulisan ini. Saya pun melebarkan sayap, mencari informasi lebih banyak melalui bantuan google. Dari situs ahok.org terpampang berita-berita kegiatan Ahok, yang unik dari tampilan situs ini adalah pada banner tertulis Basuki Tjahaja Purnama berdampingan dengan kata Bersih Transparan Profesional (BTP), tiga kata ini menurut saya sangat menggambarkan seorang Ahok.

Pencarian saya berlanjut ke situs video youtube, mencoba mengamati pribadi Ahok lewat audio visual baik ketika sedang rapat, wawancara singkat, maupun wawancara eksklusif. Apa yang saya tangkap dari beberapa video berbeda sama saja, seorang pemimpin yang tegas, ceplas-ceplos dan efisien. Sumber ini masih belum bisa memuaskan keingintahuan saya pada sosoknya, lalu saya teringat dalam film dokumenter Ahok memberikan buku perjalanan politiknya kepada salah seorang warga ketika kampanye pemilihan legislatif. Beruntung buku tersebut tersedia dalam versi .pdf di situs ahok.org . Buku tersebut berjudul MERUBAH INDONESIA (The Story of Basuki Tjahaja Purnama) dengan semacam tagline “Tidak selamanya orang miskin dilupakan”  terdiri dari 127 halaman, hanya butuh beberapa jam saja untuk menyelesaikan membaca kisah Ahok dalam berpolitik meskipun cukup menyiksa mata.

Dengan membaca buku ini saya mulai memahami arti Bersih, Transparan, Profesional. Reputasi Ahok sebagai pejabat bersih tidak perlu diragukan lagi, salah satu alasan mengapa ia terjun ke politik adalah untuk melawan korupsi. Ia memilih menjadi pejabat untuk melawan pejabat korup, seperti salah satu pepatah Tiongkok, bahwa jika kepalanya lurus maka yang dibawahnya tidak berani tidak lurus, artinya rakyat sangat ditentukan oleh pemimpinnya.

Dalam berbagai kampanye Ahok tidak pernah membeli suara rakyat, menjejali mereka dengan kaos, maupun menuruti segala materi yang diminta masyarakat untuk menjamin perolehan suaranya. Ia lebih memilih mengedukasi masyarakat tentang politik daripada membeli kemenangan dengan rupiah. Prinsipnya adalah prophetical voice yaitu menyuarakan kebenaran dan keadilan, sekalipun dengan resiko ditolak dan dicampakkan. Bukan dengan political voice dimana tidak peduli dengan cara apapun yang penting menang dalam pemilu.

Pun ketika menjabat sebagai Bupati, sempat beberapa godaan menghampiri, mulai dari kulkas pemberian teman, jam tangan Rolex berlapis emas sampai komisi proyek, namun godaan itu mampu dilaluinya. Sumpah jabatan untuk tidak menerima gratifikasi dalam bentuk apapun memang dipegang teguh meskipun nilai yang ditawarkan tidak sedikit, berkali-kali lipat lebih besar dari gaji pokok. Sebagai Bupati gaji pokok yang diterimanya adalah

Rp 6.000.000 , jika Ahok bukan pejabat bersih lalu mengiyakan semua tawaran yang ada, dalam setahun ia bisa berpenghasilan enam hingga tujuh miliar rupiah.

Basuki adalah orang yang Bersih, motivasinya menjadi Bupati bukan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Ia menunjukkan bahwa  masih ada politisi bersih di negeri ini di saat KPK semakin hari semakin sering menangkap tersangka kasus korupsi. Sikapnya ini membuahkan anugerah dari majalah TEMPO sebagai salah satu dari sepuluh tokoh yang membawa perubahan bagi Indonesia dan Bung Hatta Anti Corruption Award.

“… yang saya lakukan di DPR RI adalah transparansi. Saya adalah satu-satunya anggota DPR RI yang melaporkan secara lengkap dari perjalanan dinas, dari semua rapat, termasuk keuangannya, termasuk uang resesnya yang kami dapat dipakai kemana saja, kami laporkan secara lengkap termasuk bagaimana oknum-oknum di DPR melakukan permainan mark up

Segala macam saya laporkan dengan lengkap melalui website termasuk perjalanan setiap jam setiap menit kami lakukan apa kalau tugas ke luar negeri kami laporkan secara lengkap.”

Itu adalah kata-kata yang diucapkan oleh Ahok setelah menjadi anggota DPR RI sekaligus menjadi penutup dari film dokumenter “Jadi Jagoan ala Ahok”. Saya belum pernah menjumpai pejabat yang transparansinya melebihi ataupun menyamai transparansi yang dilakukan oleh Ahok. Situs pribadi Ahok baru saya kunjungi setelah ia  menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Benar saja semua yang diucapkannya, semua laporan kegiatan Ahok tercantum jelas dalam situs ahok.org , mulai dari artikel, foto, video, sampai jumlah gaji yang diterima diposting di laman tersebut. Artikel studi banding ke Eropa ketika menjadi anggota DPR RI rupanya masih ada. Begitu pula arsip selama menjabat sebagai anggota Komisi II DPR RI. Ketika saya membacanya memang benar disitu dijelaskan seperti apa kegiatan yang dilakukan oleh anggota dewan dan bagaimana mark up anggaran terjadi beserta nilai nominalnya. Tentu saja Ahok tidak mengikuti perbuatan yang dilakukan oleh rekan-rekannya.

Situs ini selalu up to date, setiap hari selalu menyajikan laporan kegiatan yang dilakukan oleh Jokowi dan Ahok dalam bentuk berita, foto maupun video. Kegiatan Gubernur dan Wakil Gubernur dapat dilihat melalui menu BERITA, DKI JAKARTA dan BALAIKOTA. Ada pula pemaparan APBD, panduan penggunaan Kartu Jakarta Sehat / Kartu Jakarta Pintar dan agenda Ahok. Lewat situs ini masyarakat umum disuguhi informasi secara langsung, sangat transparan bukan?

            Profesionalisme seorang Basuki Tjahaja Purnama tidak perlu diragukan lagi. Kiprah nya di dunia politik selama satu dekade telah membuahkan banyak kebijakan yang pro rakyat. Meski hanya enam belas bulan menjabat sebagai Bupati, ia mampu memberikan pendidikan gratis 12 tahun, asuransi kesehatan, santunan kematian dan subsidi pembangunan rumah bagi warga Belitung Timur. Ia juga menegakkan disiplin kerja yang cukup keras di kalangan pegawai pemda Belitung Timur. Ketika menjabat sebagai anggota DPR . Sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahok lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor memimpin berbagai rapat dari pagi hingga malam hari. Jajarannya pun salut padanya karena seringkali Ahok berangkat lebih pagi dari petugas cleaning service dan pulang lebih larut dari pegawai kebanyakan.

Keputusan-keputusan yang dibuat oleh duet Jokowi-Ahok memang tidak selalu mulus tanpa penolakan masyarakat, namun itu adalah bukti profesionalisme mereka, taat pada konstitusi bukan pada konstituen. Seperti Kebijakan KJS yang sempat menuai protes dari Rumah Sakit mitra beserta petugas medis.  Kebijakan yang mereka buat tidak didasari kepentingan golongan tertentu. Jika mereka menuruti setiap tuntutan dan keinginan warga, Jakarta tidak akan bisa berubah menjadi Jakarta Baru. Ia tak pernah gentar dengan ancaman-ancaman yang datang, bahkan ia rela mati membela konstitusi. Kini beberapa masalah Jakarta telah dan sedang diatasi, relokasi PKL dari jalan umum yang menyebabkan kemacetan dapat dilaksanakan, sterilisasi jalur TransJakarta dari kendaraan pribadi mulai membuahkan hasil, normalisasi waduk untuk mengatasi banjir terus dilakukan meskipun warga yang tinggal di sekitar waduk enggan dipindah, solusi mengurai kemacetan juga masih diusahakan.

Sama seperti ketika di Belitung Timur, Ahok juga menyediakan nomor handphone untuk menampung aspirasi masyarakat, hebatnya hampir semua sms dilayani, baik oleh tim khusus maupun Ahok sendiri.

Profesionalitas Ahok juga telah membuahkan beberapa penghargaan seperti menerima pin emas dari Fordeka  (Forum Demokrasi Kebangsaan) yang disematkan langsung oleh Amien Rais, ia dianggap sebagai salah satu tokoh reformasi dari kalangan Tionghoa yang berhasil menjadi pemimpin dan melaksanakan tugas dengan baik, sejalan dengan cita-cita reformasi. Selain itu Ahok mendapat Penganugrahan Tiga Pilar Award sebagai penyelenggara negara yang komit terhadap pemberantasan korupsi, pengahargaan ini diserahkan langsung oleh Menkominfo saat itu, Sofyan Djalil, pada 1 Februari 2007.

Karena Ahok adalah pemimpin yang terbukti Bersih Transparan dan Profesional, ia tidak pernah ragu melaju menjadi wakil rakyat meski selalu dijegal dengan isu SARA. Hasutan partai maupun calon lain untuk tidak memilih Ahok karena tidak se-SARA bukan lagi kendala karena masyarakat kini semakin cerdas dalam memilih pemimpin. Masyarakat lebih memilih pemimpin yang telah membuktikan kinerjanya, bukan lagi pemimpin yang se-SARA.

 

Anda Harapan Orang Kecil

Kepeduliannya terhadap rakyat miskin telah tertanam sejak kecil, di tanah Belitung yang kaya akan timah beserta sumber daya alam lainnya, masih banyak orang miskin dengan pendidikan rendah tidak mampu menyekolahkan anaknya dan tidak mampu mendapatkan pengobatan yang layak ketika jatuh sakit.

            Ahok adalah harapan bagi masyarakat yang terlupakan.  Ia membawa harapan nyata, bukan harapan kosong atau pun janji palsu. Fokusnya adalah mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan untuk masyarakat yang bersifat continu, bukan bantuan sosial yang sekejap lalu hilang. Perhatian utamanya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat adalah menjamin keberlangsungan pendidikan dan sarana kesehatan, baik di Belitung Timur maupun DKI Jakarta program ini selalu ada. Bagi Ahok, jalan untuk mengentaskan kemiskinan yang membelenggu masyarakat adalah melalui pendidikan yang baik dan berkualitas. Masalahnya masih ada diskriminasi pendidikan di Indonesia, rakyat miskin hanya mendapatkan pendidikan bermutu rendah. Sedangkan pendidikan bermutu baik hanya dapat dirasakan oleh kalangan elit. Aturannya 20% dana APBD dialokasikan untuk pendidikan. Ahok telah mengirimkan empat orang putra Belitung Timur dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan kuliah di Universitas Trisakti dan sepuluh orang berprestasi di Universitas Bangka Belitung. Sebelum memberikan pendidikan berkualitas bagi masyarakat tentu saja Ahok harus memberikan pendidikan politik terlebih dahulu kepada pemilih agar mereka memilih pemimpin yang tepat. Jika pendidikan sudah baik, maka tidak boleh ada lagi pengotakan dan diskriminasi dalam bentuk apa pun.

            Kesehatan juga menjadi faktor penting dalam kehidupan masyarakat. Di saat masyarakat sakit namun tidak memiliki uang untuk berobat, hal ini akan semakin menyengsarakan mereka, harta akan semakin berkurang belum lagi jika harus berhutang. Pernah suatu ketika di apotek milik ibunya, seseorang berniat membeli antibiotik seperempat saja karena tidak memiliki cukup uang. Kesejahteraan akan sulit dicapai jika warga masih kelimpungan mengurusi kesehatannya, produktivitas masyarakat menurun di kala sakit. Maka dari itu Ahok mengadakan program asuransi kesehatan di Belitung Timur dan Kartu Jakarta Sehat di DKI.

            Upaya untuk membangun kesadaran demokrasi dan transparansi diwujudkannya melalui sebuah lembaga bernama Center for Democracy and Transparency 31 (CDT 31), pengalamannya dicurangi dalam beberapa pemilihan menjadi alasan dari keberadaan CDT 31. CDT 31 adalah lembaga kajian dan riset opini publik terutama yang terkait dengan pemilihan baik nasional maupun daerah. Tidak hanya melakukan riset, CDT 31 juga terus mencari dan memotivasi pemuda-pemuda idealis, terdidik dan mampu secara ekonomi untuk tidak apatis. Individu yang telah memenuhi kriteria BTP akan dipromosikan oleh lembaga ini. Selain itu CDT 31 mendorong calon-calon pemimpin daerah untuk meninggalkan praktik politik uang untuk meraih dukungan pemilih, memperkaya wawasan masyarakat tentang figur seperti apa yang ideal untuk menjadi pemimpin mereka dan mendidik masyarakat untuk memilih pemimpin berdasarkan BTP bukan SARA.

            Semoga saja muncul Ahok-Ahok yang lain, yang sama-sama BTP dan menjadi harapan orang kecil.

Terimakasih Indra Tjahaja Purnama

Siapakah Indra Tjahaja Purnama? Beliau adalah ayah dari Basuki Tjahaja Purnama. Meski sosoknya telah pergi, namun ideologinya tercermin pada seorang Ahok. Berkat beliau hari ini kita bisa melihat sosok pemimpin tegas, bersih, transparan, profesional dan mementingkan keadilan untuk rakyat. Ahok hampir saja pindah ke Kanada karena frustasi pabriknya ditutup oleh okum pejabat, namun dilarang oleh ayahnya. Sang ayah yakin bahwa suatu saat masyarakat akan membutuhkan Ahok, memilihnya menjadi pemimpin mereka. Pada saat itu Ahok pesimis dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya, mengingat keturunan Tionghoa “muka minyak babi” selalu mendapat diskriminasi dari masyarakat terlebih di tengah era Orde Baru dan reformasi belum bergulir. Pesan sang ayah disampaikan pada tahun 1995 terbukti satu dasawarsa kemudian, masyarakat Belitung Timur memilihnya sebagai Bupati melalui pemilihan langsung di tahun 2005.

Indra Tjahaja Purnama memiliki jiwa sosial yang tinggi, beliau tidak pernah segan menolong orang lain sekalipun dirinya juga berada dalam kondisi kesusahan. Dulu cita-citanya semasa muda adalah menjadi pejabat supaya dapat mensejahterakan masyarakat, tetapi cita-citanya tidak didukung oleh kondisi ekonomi yang mengharuskannya bekerja membiayai hidup keluarga, maka cita-cita itu beliau titipkan kepada anak-anaknya untuk diwujudkan. Prinsipnya dalam menolong orang lain adalah tidak perlu menunggu untuk menjadi berkecukupan karena jika menunggu hingga berkecukupan terlebih dahulu maka hati akan melekat pada harta. Sebaliknya jika menolong orang lain sekalipun dalam kondisi yang tidak baik, maka ketika harta berkelimpahan, membaginya dengan orang lain akan terasa senang.

Ayah Ahok mendidik anak-anak nya untuk menjadi orang yang peduli dengan sekitar, keempat anaknya diperbolehkan menuntut ilmu setinggi mungkin dimana pun mereka mau namun dengan catatan harus pulang membaktikan diri untuk kampung halaman. Setiap liburan mereka diwajibkan untuk pulang kampung supaya tidak lupa dengan daerah asalnya. Beliau memberikan pendidikan demokrasi dan wejangan kepada anak-anaknya di meja makan, seringkali pepatah Tiongkok menjadi wejangan. Salah satu pepatah yang berkesan adalah “kalau mau berburu harimau, harus mengajak saudara”, maknanya adalah dalam melawan kejahatan dunia politik dibutuhkan saudara yang tidak akan lari meninggalkan saudaranya dalam kondisi apa pun. Awalnya beliau menghendaki Ahok untuk menjadi dokter mengingat jumlah tenaga medis di Belitung sangat terbatas, namun Ahok merasa dirinya terlalu “koboi” untuk menjadi dokter. Keinginan ini akhirnya dipenuhi oleh adiknya, Basuri Tjahaja Purnama yang sekarang menjabat sebagai Bupati Belitung Timur. Adik perempuan Ahok menjadi pengacara, sedangkan adik bungsunya menjadi pengusaha di bidang perhotelan dan pariwisata. Beliau mendidik putra-putrinya harus berani menegakkan kebenaran walau sendiri.

Sangat disayangkan Indra Tjahaja Purnama tidak bisa melihat Ahok kini telah menjadi apa yang diharapkannya. Namun sekali lagi saya ingin berterimakasih kepada beliau yang telah membesarkan sosok pemimpin tegas, bersih, transparan, professional dan mensejahterakan rakyat. Terimakasih Indra Tjahaja Purnama.

*Tulisan ini ditulis pada medio Januari 2014, ketika saya masih menjadi mahasiswa semester satu. Kala itu tulisan ini sempat lolos seleksi tahap pertama Bentang Pustaka namun gagal pada tahap kedua karena keterbatasan saya untuk melakukan editing (saya belum sanggup melakukan editing pada tulisan ini karena keterbatasan pergaulan dengan dosen dan masih minimnya mata kuliah yang berhubungan dengan penulisan yang sudah saya dapat). Sekarang saya memutuskan untuk menerbitkan tulisan ini melalui laman wordpress. Mengapa? Sebab sebaik-baiknya tulisan adalah tulisan memiliki pembaca, dan tentu saja untuk meramaikan Pilgub DKI 2017 yang sensasinya terasa se-Indonesia Raya. Tabik.