Firasat : Sebab Menulis Adalah Kata Kerja

“Menulislah, Nduk1.”

adalah sebuah kalimat dengan nada tak bisa ditebak –meminta atau meyuruh– yang diucapkan ayah saya sekitar satu dekade lalu di atas motor dalam perjalanan pulang dari kolam renang umum ke rumah. Aku, yang saat itu masih bocah ingusan kelas empat sekolah dasar, hanya mengangguk-angguk sok mengiyakan dalam. Nyatanya, yang kulakukan adalah nggah-nggih ora kepanggih2. Bahkan ketika suatu hari beliau menambahkan, “Jadi, setiap kita pulang entah sehabis berenang, bersepeda, ke bendungan atau main ke makam3, tulislah pengalaman-pengalaman itu.”, aku tak pernah punya itikad untuk menuliskan pengalaman-pengalaman itu.  Meski aku tak kunjung menulis apa-apa, ayahku tak putus-putus mendengungkan,”Menulislah, Nduk.” , seperti Jibril ketika menyampaikan wahyu “Iqra4!”kepada Muhammad, hingga aku berkuliah di jurusan sastra Indonesia. Setelah aku menjadi mahasiswi di jurusan sastra Indonesia, beliau purnatugas dari mendengungkan kalimat tersebut sebab beliau paham hidupku akan sangat lekat dengan menulis. Belakangan aku menekuri kembali hal itu, mungkin ini firasat. Semestinya aku tak perlu kaget ketika diterima di jurusan sastra ketimbang jurusan ilmu sosial politik. Toh, ketika akhirnya di semester enam aku “dipaksa” menghasilkan tulisan entah fiksi maupun fakta melalui tugas-tugas yang diberikan dosen, aku menikmatinya sekalipun tak jarang aku mengeluh. Ada kenikmatan yang timbul ketika membuat kerangka berpikir, menyusun diksi, merangkai kalimat agar tersusun dalam sebuah paragraf yang apik, hingga memberikan judul yang tepat. Ketika tulisan yang kususun selesai, kubaca ulang, lalu aku merasa bahagia.

Sementara ini aku masih terikat pada tugas-tugas untuk menghasilkan tulisan. Tak ada tugas, jarang sekali aku menghasilkan tulisan baru. Tulisan-tulisan yang kuhasilkan di luar tugas, cenderung banyak mengandung curhat picisan. Entah kapan, pada titik apa, suatu hari aku ingin menulis menjadi kebutuhan hidup. Kebutuhan primer pada masa kekinian ini : koneksi ke jaringan internet dan daya listrik . Sebab seperti yang dikatakan Gus Muh dalam salah satu kunjunganku ke Radio Buku,”Menulis adalah kata kerja.”

antarakata, 8 Januari 2017

Catatan :

1 Sapaan untuk anak perempuan dalam kultur  masyarakat  Jawa.

2 Mengiyakan namun tidak melaksanakan, janji manis.

3 Makam Bung Karno. Kompleks makam presiden pertama Indonesia dan kedua orang tuanya yang terletak di Blitar ini menjadi ruang publik untuk masyarakat. Kebanyakan warga Blitar mengunjungi tempat ini untuk berekreasi.

4 Bacalah. Potongan surah Al Alaq ayat 1

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s