Sepucuk Kartu Pos*

“Negara adidaya sebesar Amerika saja masih menghormati tradisi surat menyurat bahkan sampai sekarang. Itu bukti bahwa pos never dies, tak lekang oleh waktu!”, tegas pria berkacamata itu, mengalahkan volume lagu Manusia Bodoh di belakangnya. Aku hanya bisa mengangguk takzim sebab memang tak tahu apa-apa perihal pos.

Siang itu langit mendung, namun aku tetap berangkat ke Kantor Pos Tembalang  karena sudah terlanjur berjanji akan mengirim kartu pos untuk salah seorang kawanku di Jakarta Selatan, sekaligus membuat alasan untuk bertanya  tentang dunia pos yang selama ini hanya kunikmati melalui kisah dalam cerpen dan novel. Di bagian depan tertulis waktu pelayanan selama bulan Ramadhan dibatasi sampai pukul 15.00, setidaknya aku punya sekitar satu sampai satu setengah jam sebelum Kantor Pos tutup. Aku mendorong pintu masuk pelan, mendapati Kantor Pos sangat lengang. Hanya ada dua orang pelanggan dan tiga orang petugas mengenakan kemeja abu-abu dengan bordir burung merpati di dada kiri, dua di antaranya masih terbilang muda. Pertanyaan pertama kutujukan pada petugas perempuan satu-satunya, apakah Kantor  Pos ini masih menyediakan Kartu Pos. Perempuan berjilbab oranye itu mengernyit, “Tentu saja masih. Banyak pula orang yang mengirimkan kartu pos ke luar negeri.”, terangnya menggugurkan prasangkaku. Kukira semua orang telah beralih ke jejaring media sosial untuk bertukar kabar.

Empat lembar kartu pos bergambar Gunung Bromo dan Danau Toba kubeli seharga Rp 1.000 sedangkan perangko seri gerhana matahari dihargai Rp 3000. Kikuk rasanya mengisi kartu pos untuk berkorepondensi dengan seorang kawan setelah sekian lama menggunakan kartu pos hanya untuk mengirim jawaban Teka Teki Silang (TTS) ke kantor surat kabar, itu pun sudah sangat lama sekali ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Berulang kali aku mengganggu ketiga petugas Kantor Pos, menanyakan tempat menulis alamat, berapa nomor kode pos Tembalang, hingga dimana biasanya pesan itu ditulis. Di saat itulah aku merasa malu menjadi generasi kekinian yang terlalu akrab dengan papan ketik di layar telepon pintar dan tak piawai menggunaan perangkat surat menyurat.

Gerak-gerikku nampaknya memang sudah terlihat ganjil sejak awal memasuki Kantor Pos ini. Canggung dan terlalu sering menyeringai tak jelas, bukanlah gelagat seseorang yang hendak mengirim kartu pos. Terlebih pesan di kartu pos itu hanya sekedar menanyakan kabar, bukan pesan cinta kepada kekasih. Aku masih belum selesai menuliskan pesan di bagian belakang kartu pos ketika suara angin dan guruh terdengar dari luar. Hujan deras seketika turun, mengurungku bersama ketiga petugas tadi. Entah ini pertanda baik atau buruk bagi keinginan yang kuniatkan sejak berangkat tadi.

“Wah, hujan ini pasti awet karena mendungnya berwarna putih!”, seru petugas lelaki yang masih muda

“Malah enak kan? Berarti sehabis ini tidak ada pelanggan lagi. Paling sebentar lagi juga ada pemadaman listrik.”, sahut petugas yang telah beruban

“Tenang Mbak, kami akan tunggu sampai waktu pelayanan Kantor Pos tutup.”, kata petugas lelaki yang masih muda itu kepadaku, mungkin ia berusaha menenangkan karena raut mukaku mulai terlihat panik.

Kuputuskan hujan badai ini adalah pertanda baik untuk melancarkan keinginanku bertanya seputar dunia pos di Indonesia. Setelah merampungkan pesan di bagian belakang kartu pos, menuliskan alamat pengirim dan penerima, lantas menempelkan perangko dengan lem yang telah disediakan secara cuma-cuma, aku menyerahkannya kepada petugas berjilbab oranye. Baru beberapa kalimat aku berbasa-basi menanyakan perihal kartu pos, tiba-tiba datang seorang pelanggan yang hendak membayar kredit motor menyela percakapanku dengan petugas berjilbab oranye. Aku pun memutuskan untuk beralih pada petugas lelaki beruban yang nampaknya terusik dengan pertanyaan-pertanyaanku.

Rasa malu ketika tak becus mengisi kartu pos tidak ada apa-apanya dibanding dengan ketika aku iseng menanyakan apakah bis surat masih sering dibuka. Pertanyaan ini kuajukan karena aku seringkali merasa bis surat yang kujumpai di depan Kantor Pos maupun di pinggir  jalan selalu terlihat kusam dan diabaikan keberadaannya, seakan tak pernah digunakan lagi. Joko Rustiyono, lelaki yang sudah mengabdi sebagai pegawai di Kantor Pos selama 30 tahun terakhir ini membuat pertanyaan isengku tadi merembet ke mana-mana.

“Kamu tahu dari mana bis surat itu masih dibuka atau tidak? Memangnya kamu yang memegang kunci dan membuka bis surat? Setiap hari kami masih membuka bis surat dan mengecek keberadaan surat di dalamnya, Dik!”

Seketika aku merasa sangat bodoh dan tolol atas pertanyaanku sendiri. Pada saat yang sama aku baru menyadari bahwa aku belum melakukan riset sedikitpun mengenai PT. Pos Indonesia dari internet. Sebuah kesalahan besar yang membuatku harus berulangkali menanggung malu ketika dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan dari seorang pegawai senior Kantor Pos.

Pertanyaan paling mendasar mengenai sejarah dimulainya PT. Pos Indonesia pun tak dapat kujawab dengan tepat. Kukira Jalan Raya Pos, Jalan Raya Daendels karangan Pramoedya Ananta Toer bisa disodorkan sebagai jawaban mengenai awal mula berdirinya PT. Pos Indonesia. Namun Joko Rustiyono menampik keberadaan jalan raya pos sebagai jawaban, sebab pada mulanya pos beroperasi menggunakan burung merpati. Ia dengan sangat meyakinkan menerangkan bahwa merpati pos bukanlah kisah isapan jempol belaka Dulu surat diikatkan di kaki burung merpati, kemudian merpati itu akan terbang sampai ke alamat surat tersebut ditujukan, lantas akan kembali lagi dengan membawa surat balasan. Itulah sebabnya PT. Pos Indonesia menggunakan burung merpati sebagai lambang perusahaan. Selama 277 tahun perusahaan ini telah menjaga kepercayaan para pengguna jasanya dengan kesetiaan layaknya merpati. Sampai saat ini PT. Pos Indonesia masih melayani pengiriman dokumen maupun barang dari dan ke tempat terkecil sekalipun, seperti di sebuah Kantor Pos di kaki pegunungan Jayawijaya.

“Kamu tahu kenapa mengirim surat dari Singapura ke Semarang lebih cepat daripada mengirim surat dari Semarang ke Papua? Coba jawab!”

“Err.. emm… Akses, Pak?”,jawabku ragu.

“Kenapa?”

Belum sempat aku menjawab, ia dengan perasaan gemas menjawab pertanyaannya sendiri.

“Karena transportasi di Singapura sudah maju. Tidak seperti di Indonesia! Di sana setiap hari selalu ada pesawat yang melayani berbagai rute penerbangan. Lha di sini? Pesawat yang melayani rute ke daerah pelosok belum tentu beroperasi setiap hari!”

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala mengiyakan setiap perkataannya. Semakin banyak pertanyaan yang ia ajukan setelah menjawab pertanyaanku, semakin nyata bahwa sebenarnya aku tak tahu apa-apa.

“Kamu tahu kenapa wartel dan telepon umum sudah punah sedangkan pos masih beroperasi?”

“Kenapa sampai saat ini orang-orang masih menggunakan pos meskipun jasa ekspedisi semacam TiKi dan JNE telah menjamur? Seperti halnya kenapa orang-orang masih menggunakan timbangan besi meskipun sudah ada timbangan elektrik?”

“Kamu tahu tidak kalau PT. Pos banyak dicemburui oleh perusahaan-perusahaan lain?”

“Kamu rela atau tidak jika PT. Pos go international seperti Telkomsel dan Indosat? Jawab!”

Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan Joko Rustiyono kepadaku dari balik meja kerjanya sembari menyortir tumpukan berkas-berkas pembayaran. Panjang lebar ia menerangkan bahwa PT. Pos akan senantiasa berkembang secara dinamis mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi persuratan. PT. Pos Indonesia kini tak hanya melayani jasa ekspedisi dokumen dan barang saja, tetapi juga merambah ke jasa pembayaran, distribusi bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah, hingga layanan menabung. Wartel bisa punah, tetapi Kantor Pos tidak. Para filatelis masih tekun mengoleksi lembaran-lembaran perangko beraneka tema dan pengirim surat-surat cinta masih setia bersama PT. Pos. Pak Pos pun masih menjaga kepercayaan pelanggan, senantiasa menelusuri jalanan demi mencapai alamat kemana surat-surat itu ditujukan. Tak peduli betapa banyaknya jasa ekspedisi yang terus bermunculan setelah monopoli PT. Pos berakhir, perusahaan-perusahaan jasa ekspedisi tersebut tidak bisa mengalahkan jangkauan PT. Pos yang telah terbentuk sejak lama. Kedinamisan fungsi maupun pelayanan PT. Pos Indonesia inilah yang menimbulkan rasa cemburu dari perusahaan-perusahaan lain. Secara pribadi Joko Rustiyono menolak wacana go international sebab ia tak rela badan usaha milik negara ini beralih ke tangan asing seperti kasus yang pernah terjadi di era kepemimpinan Presiden Megawati.

“Bapak kerja di Kantor Pos karena keinginan sendiri atau … “

Belum selesai kalimat tanyaku, lelaki berkacamata persegi ini sudah memotong dengan jawabannya,

“Ya karena keinginan sendiri! Zaman saya dulu itu jadi pegawai pos atau Pak Pos itu adalah sebuah kehormatan, sebuah cita-cita. Menjadi pegawai pos adalah bentuk dari pengabdian kepada negara. Selain itu syarat menjadi tukang pos cukup sederhana. Satu, punya sepeda.Yang kedua, jujur. Bayangkan kalau tukang pos itu tidak jujur atau tidak ngabdi, pasti surat-surat itu tidak akan segera sampai ke alamatnya. Bisa-bisa si tukang pos malah tidur ketika seharusnya mengantar surat. Kamu mau jadi Bu Pos? Asal kamu perlu tahu, sekarang ini sudah ada yang namanya Bu Pos tetapi masih terbatas di Jakarta. Tahun depan akan ada pendaftaran Bu Pos di Semarang, kalau kamu mau daftar.”, kata-kata itu terdengar diucapkannya dalam satu tarikan nafas saja.

Tepat ketika jam dinding menunjukkan pukul 14.30 Joko Rustiyono mengusirku secara halus, sebab Kantor Pos akan tutup setengah jam lagi. Mungkin juga karena ia sudah mulai bosan dengan pertanyaan-pertanyaan dangkal yang kuajukan sedari tadi. Aku hanya bisa berterimakasih atas waktu dan pengertian yang ia berikan, berpamitan kepada dua petugas lainnya, lantas meninggalkan Kantor Pos meski di luar masih turun hujan.

* Tulisan ini sebelumnya pernah diunggah di annaskaryadi.tumblr.com . Selain itu, tulisan ini merupakan tugas akhir mata kuliah Sastra Jurnalistik yang diampu oleh Triyanto Triwikromo.

Advertisements

Firasat : Sebab Menulis Adalah Kata Kerja

“Menulislah, Nduk1.”

adalah sebuah kalimat dengan nada tak bisa ditebak –meminta atau meyuruh– yang diucapkan ayah saya sekitar satu dekade lalu di atas motor dalam perjalanan pulang dari kolam renang umum ke rumah. Aku, yang saat itu masih bocah ingusan kelas empat sekolah dasar, hanya mengangguk-angguk sok mengiyakan dalam. Nyatanya, yang kulakukan adalah nggah-nggih ora kepanggih2. Bahkan ketika suatu hari beliau menambahkan, “Jadi, setiap kita pulang entah sehabis berenang, bersepeda, ke bendungan atau main ke makam3, tulislah pengalaman-pengalaman itu.”, aku tak pernah punya itikad untuk menuliskan pengalaman-pengalaman itu.  Meski aku tak kunjung menulis apa-apa, ayahku tak putus-putus mendengungkan,”Menulislah, Nduk.” , seperti Jibril ketika menyampaikan wahyu “Iqra4!”kepada Muhammad, hingga aku berkuliah di jurusan sastra Indonesia. Setelah aku menjadi mahasiswi di jurusan sastra Indonesia, beliau purnatugas dari mendengungkan kalimat tersebut sebab beliau paham hidupku akan sangat lekat dengan menulis. Belakangan aku menekuri kembali hal itu, mungkin ini firasat. Semestinya aku tak perlu kaget ketika diterima di jurusan sastra ketimbang jurusan ilmu sosial politik. Toh, ketika akhirnya di semester enam aku “dipaksa” menghasilkan tulisan entah fiksi maupun fakta melalui tugas-tugas yang diberikan dosen, aku menikmatinya sekalipun tak jarang aku mengeluh. Ada kenikmatan yang timbul ketika membuat kerangka berpikir, menyusun diksi, merangkai kalimat agar tersusun dalam sebuah paragraf yang apik, hingga memberikan judul yang tepat. Ketika tulisan yang kususun selesai, kubaca ulang, lalu aku merasa bahagia.

Sementara ini aku masih terikat pada tugas-tugas untuk menghasilkan tulisan. Tak ada tugas, jarang sekali aku menghasilkan tulisan baru. Tulisan-tulisan yang kuhasilkan di luar tugas, cenderung banyak mengandung curhat picisan. Entah kapan, pada titik apa, suatu hari aku ingin menulis menjadi kebutuhan hidup. Kebutuhan primer pada masa kekinian ini : koneksi ke jaringan internet dan daya listrik . Sebab seperti yang dikatakan Gus Muh dalam salah satu kunjunganku ke Radio Buku,”Menulis adalah kata kerja.”

antarakata, 8 Januari 2017

Catatan :

1 Sapaan untuk anak perempuan dalam kultur  masyarakat  Jawa.

2 Mengiyakan namun tidak melaksanakan, janji manis.

3 Makam Bung Karno. Kompleks makam presiden pertama Indonesia dan kedua orang tuanya yang terletak di Blitar ini menjadi ruang publik untuk masyarakat. Kebanyakan warga Blitar mengunjungi tempat ini untuk berekreasi.

4 Bacalah. Potongan surah Al Alaq ayat 1